"Semulia-mulianya manusia adalah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat" (Khalifah Abdul Malik bin Marwan).

Selasa, 24 Februari 2009

0 Tujuan Evaluasi Pembelajaran Versi 2

Selain seperti yang telah dijelaskan di awal mengenai tujuan dari evaluasi pembelajaran, ada juga tujuan dari evaluasi pembelajaran, yaitu:

- Menilai kemampuan individual (siswa)

- Menentukan kebutuhan pembelajaran (sarana dan prasarana)

- Membantu dan mendorong siswa dalam belajar (siswa akan termotivasi setelah melihat hasil)

- Membantu dan mendorong guru untuk mengajar lebih baik

- Menentukan strategi pembelajaran

-Akuntabilitas (pertanggung jawaban) sebuah lembaga kepada masyarakat

- Meningkatkan kualitas pendidikan

0 Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Fungsi dari Evaluasi Pembelajaran Adalah:

- Formatif: Dari evaluasi diharapkan adanya perubahan/perbaikan belajar siswa dan cara mengajar guru

- Sumatif: Menilai keberhasilan siswa

- Diagnostik: Mencari kesulitan dan kelemahan siswa

- Penempatan: Menempatkan peserta didik sesuai kemampuan masing2.

0 Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Sebenarnya kenapa sih guru harus melakukan evaluasi??? memang apa sih istimewanya evaluasi? lantas seberapa besar pengaruh evaluasi di dalam pembelajaran???

Seberapa seringkah kita mendengar pertanyaan itu?? Untuk menjawabnya, kita harus tau apa sih Tujuan dari adanya evaluasi pembelajaran itu?? tujuannya adalah:


- Untuk melihat produktifitas dan efektifitas belajar peserta didik

- Untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar

- Untuk memperbaiki dan menyempurnakan program pembelajaran

- Untuk mengetahui kesulitan yang dialami oleh peserta didik

- Untuk menempatkan peserta didik sesuai kemampuannya

0 Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

Selintas, ketiga kata tersebut (Pengukuran, penilaian, dan evaluasi), kita anggap sama. Tetapi harus kita ketahui bahwa ketiga kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Lantas, Apa sih perbedaan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi?


Pengukuran: Sekumpulan data kuantitatif yang didapat dari hasil test.
Penilaian : Pemberian keputusan terhadap pengukuran yang telah kita lakukan.
Evaluasi : Proses yang mencakup pengukuran dan penilaian (Pengukuran dan penilaian merupakan bagian dari evaluasi)yang berisi pengambilan keputusan tentang nilai.

Ada juga yang berpendapat bahwa evaluasi adalah proses mendapatkan informasi yang dapat digunakan sbg dasar pengambilan keputusan tentang peserta didik yang menyangkut seluruh komponen pembelajaran.

0 Sekilas tentang Evaluasi Pembelajaran

Di jurusan Teknologi Pendidikan, konsentrasi Perekayasa pembelajaran, kita belajar evaluasi pembelajaran, karena kita sebagai calon perekayasa pembelajaran harus mampu merancang sebuah pembelajaran yang baik agar dapat disampaikan secara efektif dan efisien.

Apa saja sih yang dipelajari dalam Evaluasi pembelajaran ini??
Untuk mendapatkan gambaran mengenai evaluasi pembelajaran, ada pokok2 bahasan yang akan dipelajari pada mata kuliah evaluasi pembelajaran ini, diantaranya:


- Hakekat Pembelajaran (apa itu pembelajaran, konsep pembelajaran, fungsi dan prinsip2 pembelajaran,ruang lingkup pembelajaran)

- Taksonomi kemampuan hasil belajar

- Penyusunan rencana evaluasi pembelajaran

- Teknik penulisan butir soal

- Uji coba soal (pemeriksaan soal, skoring, penggunaan rumus, penentuan batas lulus, transfer nilai,dll...

-Penggunaan hasil evaluasi

-Analisis kualitas tes dan butir soal

Mungkin, itulah sekilas dari evaluasi pembelajaran yang akan kita pelajari, dengan adanya sekilas info, diharapkan ada gambaran yg biza membuat Qt lbih bSemangat dalam mempelajari Evaluasi Pembelajaran ini

Rabu, 18 Februari 2009

0 Mantan Presiden Kita dan Pelanggarannya terhadap Pancasila

Sore tadi akuww ikut kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, kebetulan sih materi yang kita bahas masih dasar2 pendidikan kewarganegaraan...

Materi yang dibahas adalah mengenai Filsafat Pancasila,,,

Ada beberapa perkataan pa dosen yang bikin saya geli,,, beliau sempat menyebutkan pelanggaran mantan presiden terhadap pancasila persis sesuai dengan urutannya masing2...

Bingung??

Mari Kita buktikan...


1.
Sila ke satu : Ketuhanan yang maha Esa dilanggar oleh Presiden pertama Indonesia: Ir.Soekarno (ingatkah kita, dulu beliau pernah Mendirikan NASAKOM - Nasionalis Agama Komunis- yg jlas2 Agama tidak dapat disatukan dengan komunis/ dengan kata lain sudah tidak meng-esakan tuhan)

2.
Sila ke dua: Kemanusiaan yang Adil dan beradab dilanggar oleh Presiden kedua: Soeharto (Masih ingat dengan peristiwa PKI? beliau menumpasPKI dan semua masyarakat yang berbau PKI, sampai2 ada kejadian karena di fitnah sebagai PKI, nyawa seorang pemuda harus melayang, padahal belum bisa dibuktikan kebenarannya apakah pemuda itu PKI atau bukan, bahkan KATANYA kasus itu tidak hanya sekali saja,,, Wallahu 'alam)

3.
Sila ke tiga: Persatuan Indonesia, dilanggar oleh
Presiden ketiga: BJ Habibie (masih teringat dengan kasus Tim2 yg memisahkan diri dari bagian negara Indonesia??)

4.
Sila ke empat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan dilanggar oleh Presiden ke empat: Gusdur (Masih ingat dengan ulah beliau yang mau membubarkan DPR???)

5.
Sila ke lima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dilanggar oleh Presiden Ke lima: Megawati (Kita pasti masih ingat ketika beliau menjabat, beliau termasuk presiden yang menjual BUMN)

Mungkin itulah yang saya dapat dari pelajaran PKN sore tadi, (maaf pa'... saya iseng mengutif perkatan bapa.. hehe,,,)

Untuk semua pendukung atau fans para tokoh yang saya sebutkan diatas, saya mohon maaf bukan maksud membuka luka lama, tapi apalah daya, semua manusia pasti melakukan kesalahan, dan sebaik2nya manusia adalah yang mau belajar dari kesalahan (termasuk kesalahan orang lain)...








Senin, 16 Februari 2009

2 PLKJ ke Dua Qta...

Huh... akhirnya kita bisa bernafas lega, PLKJ yang kedua ini berjalan dengan lancar...

Sempat di pra pLKJ, kami mendapatkan satu kritikan membangun, yaitu kurangnya sosialisasi kami kepada para warga,,, Tapi di PLKJ yang kedua ini, masyarakat mangacungi semua jempol yang dimilikinya untuk kami... heee....

O iya, Apa sich PLKJ itu???

PLKJ (PROGRAM LATIHAN KHIDMAT JAM'IYAT), suatu program akhir sekolah Tingkat Muallimien/SMA (salah satu syarat kelulusan Ujian tingkat Akhir) di Persatuan Islam.

Jika di Universitas2, kita sering mendengarnya istilah KKN.

Kebetulan pada acara PLKJ yang kedua ini kita ditempatkan di Daerah Cipada Pangheotan Bandung Barat. Dilaksanakan selama 2 minggu, disana kita dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat desa yang memiliki karakter yang berbeda2, berdakwah di masyarakat yang memiliki keyakinan (madzhab)yang berbeda2, menjadi imam shalat, mengajar, bakti sosial, dll)

Ada satu yang paling sulit untuk dilupakan, Dimana kita harus menempuh jarak 9 km untuk sampai ke sekolah tempat kita mengajar, perjalanannya melewati ratusan hektar perkebunan teh milik pemerintah, Hutan kecil pun kita lewati). Ada sich mobil angkutan yang dapat membawa kita sampai ke tempat tujuan, itupun hanya 2 jam sekali. Untuk mendapatkannya kita pun harus rela berbagi dengan warga. Adakalanya kita pun harus rela duduk diatas mobil. funtastic...

Saya sempat mengabadikan moment2 penting itu, baik acara resmi maupun yang santai, tapi sayangnya Camera digital yang saya pakai itu nyemplung ke air, alhasil semua gambar ilang...

Tapi ada satu teman yang kebetulan dia sempet foto2 lewat Hp nya. Dan inilah kira2 gambarnya....




PLKJ Rijalul Ghad



PLKJ Ummahatul Ghad



Kelompok 2 PLKJ daerah Pangheotan Bandung Barat







Para Ibu Guru... :D


Sosok Wajah para presiden cilik...























Sabtu, 14 Februari 2009

0 Fenomena Sang Beckham



Spesifikasi masalah masa depan beckham terus saja berlanjut, belum ada keputusan yang pasti. Kubu Los Angeles Galaxy memastikan jika pemain termahalnya tersebut akan tetap kembali ke Amerika Serikat dan menyelesaikan kontrak dengan LA Galaxy. Sementara Milan tetep keukeuh bahwa Beckham akan tetap bermain untuk Milan

Setelah memberikan batas waktu hingga tanggal 13/2/2009, LA Galaxy berargumen jika Milan tidak mengajukan tawaran dengan nilai yang diinginkan. Kubu Milan dan LA Galaxy juga gagal bertemu untuk membicarakan masa depan Beckham.



Perusahaan pemilik LA Galaxy, Anchutz Entertainment Group, melalui presidennya Tim Leiweke menyuarakan bila pihaknya tidak bersedia berkompromi dengan Milan dalam masalah ini.

Leiweke sadar jika Milan tidak akan berhenti untuk tetap mempertahankan Beckham. Namun, ia tidak ingin mengecewakan kubu LA Galaxy yang dominasi bersuara ingin agar Beckham tidak hijrah ke Milan.

Jumat, 13 Februari 2009

0 Top Iklan

Keliling2 ngedownload, egh ternyata nemu iklan keren...


Iklan NIKE




Iklan Pepsi





Iklan Axe





Iklan Pepsi (Beckham)

0 Ada Paus Terdampar di MasjiD....

Masih ulah anak2 tekpend ada ada saja ulahnya..

Ada paus terdampar di Mesjid?? kenapa bisa???

Tengok saja video di bawah ini:::




1 Video anak Tekpend PP 08



Aya aya... bae, anak2 tekpend emang gda abisnya...

Giliran Musa sang ketua kelas yang mau2'x di kerjain...

Meniru adegan extreme Jhon Knoxville, dan kawan2... musa berusaha menjadi yang terhebath hahaha...

Atau bisa di download juga di youtube Klik disini


Dont Try this At Home...

Hanya pasukan berani mati saja yg boleh..

Wakwakwak.,...
A. KESIMPULAN
Setelah penulis menguraikan karya tulis ini, yang terdiri dari Bab I sampai Bab III, dengan segala keterbatasan ilmu yang penulis miliki, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Remaja adalah anak yang ada pada masa peralihan diantara masa anak-anak dan masa dewasa, dimana anak-anak mengalami perubahan cepat di segala bidang. Perubahan ini bukan hanya dari segi usia tetapi dari segi sikap, cara berpikir, bertindak dan perubahan-perubahan lainnya, baik itu perubahan secara fisik maupun psikis.
2. Narkoba (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) merupakan obat atau bahan atau zat yang jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntikkan di luar pengawasan pihak yang berwenang dengan cara yang berlebihan, akan berpengaruh terutama pada kerja otak .
3. Sebagian remaja menyalahgunakan narkoba adalah sebagai jalan keluar untuk menghindar dari kesulitan hidup dan konflik-konflik batin yang berat. Pada umumnya mereka yang tidak biasa menghadapi masalah-masalah berat, kurang mendapat sentuhan iman dan akhlak, disamping itu jiwanya sangat labil sehingga pada saat dirinya dihadapkan pada berbagai macam kesulitan yang berat yang tidak mereka bayangkan sebelumnya, sementara itu dia tidak mampu menyelesaikannya, maka pada akhirnya pada penyalah-gunaan narkoba, sebagai jalan untuk mencari penenang dari rasa ketakutan dan kerisauan hatinya.
4. Penyalah-gunaan narkoba akan menyebabkan gangguan kesehatan fisik, mental dan kehidupan sosialnya dan tentu saja akan merugikan semua pihak yang berkaitan.
5. Pendekatan Islam dalam menanggulangi penyalah-gunaan narkoba ditujukan pertama kali adalah pada keluarga, karena keluarga adalah faktor utama yang menentukan kepribadian remaja di dalam pergaulannya sehari-hari. Dan keluarga lah yang bisa mengatasi berbagai ekses negatif yang datang dari luar.B. REKOMENDASI
Berikut ini merupakan saran-saran dari penulis, dengan harapan adanya perubahan yang positif khususnya bagi penulis, umumnya bagi semuanya:
1. Kepada para pembaca, alangkah baiknya menghindari membaca setengah-setengah. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mendapat suatu kejelasan yang pasti juga agar terhindar dari kesalahpahaman dalam memahami karya tulis ini.
2. Kepada lembaga, demi kelancaran dalam penulisan karya tulis, agar mendapatkan hasil yang sempurna, sangat diharapkan agar disertai dengan fasilitas yang memadai, baik itu perpustakaan ataupun komputer.
3. Kepada para remaja khususnya adik-adik kelas, hendaklah jangan mudah terbawa arus apalagi pada zaman sekarang ini banyak sekali ranjau-ranjau yang dapat menjerumuskan para remaja kepada segala hal yang dapat menyesatkan.
4. Kepada adik-adik kelas, hendaklah membiasakan membaca. Karena dengan membaca, kita akan mendapatkan wawasan yang banyak.
Alhamdulillah wa Syukrulillah, sampai pada bab ini selesai lah uraian yang berkaitan dengan”PENDEKATAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA” dapat penulis selesaikan berkat hidayah dan inayah-Nya.

Kamis, 12 Februari 2009

1 Penerimaan Anggota Baru Tekpend 2008





Uagh... akhirnya Selesai juga PAB Tekpend 2008, udah 2 hari Qta semua berkeliaran di hutan, hahaha... mudah2an memang dengan adanya niat baik para panitia yang mengadakan acara ini, membuat Qta menjadi mahasiswa yang kritis, solid, dan inovatif...

MesQi memang sempat mengalami kekcewaan, yaitu selain cuaca yang tidak mendukung, makanan yang kurang diperhatikan (menurut sebagian peserta sih gt), juga sedikitnya waktu yang diberikan untuk beribadah.

Next Year, Qta yang akan jadi panitianya...

Ada banyak Pelajaran yang Qta terima dari Pab kemarin, untuk menjadikan PAB tahun depan lebih baik, dan tujuannya memang benar2 tercapai, bukan sebatas ospek senior pada junior...

Rabu, 11 Februari 2009

0 Kata'x ni acara wisuda t'Aneh, Lho???!!


WISUDA MUALLIMIEN ANGKATAN 15...

Menurutku, ini adalah wisuda yang terunik... hanya diikuti oleh 13 wisudawan dan 21 wisudawati, yang kata org2 sih angka 13 dan 21 itu adalah angka sial... Gak peduli apa kata orang, yang pasti ternyata akhirnya kami lulus dengan nilai yang sempurna, dan sekarang kami telah menjadi orang-orang berhasil...

we Love 13...

Bamblass Community...

0 QOLBY AZKY MAULI ALBANIE (ALBY)

0 BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah penulis menguraikan karya tulis ini, yang terdiri dari Bab I sampai Bab III, dengan segala keterbatasan ilmu yang penulis miliki, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: 

1. Remaja adalah anak yang ada pada masa peralihan diantara masa anak-anak dan masa dewasa, dimana anak-anak mengalami perubahan cepat di segala bidang. Perubahan ini bukan hanya dari segi usia tetapi dari segi sikap, cara berpikir, bertindak dan perubahan-perubahan lainnya, baik itu perubahan secara fisik maupun psikis. 

2. Narkoba (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) merupakan obat atau bahan atau zat yang jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntikkan di luar pengawasan pihak yang berwenang dengan cara yang berlebihan, akan berpengaruh terutama pada kerja otak .

3. Sebagian remaja menyalahgunakan narkoba adalah sebagai jalan keluar untuk menghindar dari kesulitan hidup dan konflik-konflik batin yang berat. Pada umumnya mereka yang tidak biasa menghadapi masalah-masalah berat, kurang mendapat sentuhan iman dan akhlak, disamping itu jiwanya sangat labil sehingga pada saat dirinya dihadapkan pada berbagai macam kesulitan yang berat yang tidak mereka bayangkan sebelumnya, sementara itu dia tidak mampu menyelesaikannya, maka pada akhirnya pada penyalah-gunaan narkoba, sebagai jalan untuk mencari penenang dari rasa ketakutan dan kerisauan hatinya. 

4. Penyalah-gunaan narkoba akan menyebabkan gangguan kesehatan fisik, mental dan kehidupan sosialnya dan tentu saja akan merugikan semua pihak yang berkaitan. 

5. Pendekatan Islam dalam menanggulangi penyalah-gunaan narkoba ditujukan pertama kali adalah pada keluarga, karena keluarga adalah faktor utama yang menentukan kepribadian remaja di dalam pergaulannya sehari-hari. Dan keluarga lah yang bisa mengatasi berbagai ekses negatif yang datang dari luar.


B. REKOMENDASI
Berikut ini merupakan saran-saran dari penulis, dengan harapan adanya perubahan yang positif khususnya bagi penulis, umumnya bagi semuanya:

1. Kepada para pembaca, alangkah baiknya menghindari membaca setengah-setengah. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mendapat suatu kejelasan yang pasti juga agar terhindar dari kesalahpahaman dalam memahami karya tulis ini. 

2. Kepada lembaga, demi kelancaran dalam penulisan karya tulis, agar mendapatkan hasil yang sempurna, sangat diharapkan agar disertai dengan fasilitas yang memadai, baik itu perpustakaan ataupun komputer.

3. Kepada para remaja khususnya adik-adik kelas, hendaklah jangan mudah terbawa arus apalagi pada zaman sekarang ini banyak sekali ranjau-ranjau yang dapat menjerumuskan para remaja kepada segala hal yang dapat menyesatkan.

4. Kepada adik-adik kelas, hendaklah membiasakan membaca. Karena dengan membaca, kita akan mendapatkan wawasan yang banyak.

Alhamdulillah wa Syukrulillah, sampai pada bab ini selesai lah uraian yang berkaitan dengan”PENDEKATAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA” dapat penulis selesaikan berkat hidayah dan inayah-Nya.

0 BAB III ANALISIS PERMASALAHAN (Part 3)

C. DOA DAN DZIKIR SEBAGAI PELENGKAP UPAYA PENANGGULANGAN

Menurut Hawari (2004:65) “Keluarga pecandu diharapkan segera memotivasi diri untuk menjadi keluarga yang sakinah, harmonis, dan bahagia, karena itulah harapan para remaja untuk keluarganya”.

Keluarga juga harus memotivasi anak agar selalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah swt untuk memohon pertolongan dan juga untuk memohon ampunan.
Firman Allah swt dalam Surat Al-baqoroh ayat 186, sebagai berikut:

Artinya:
"Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Depag, 2004:45)

Ayat ini, mengandung suatu dorongan agar manusia berdoa hanya kepada Allah swt, niscaya Allah akan mengabulkan doa nya. Dengan syarat mereka dapat memenuhi segala perintah Allah, yaitu beriman kepada Allah, beribadah kepada Allah, dan menjauhi segala perbuatan yang dapat mengundang murka-Nya.

Juga Allah swt berfirman dalam Surat Ar-Ra'du ayat 28:


Artinya:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram". (Depag, 2004: 373)
Dengan selalu mengingat Allah swt, mantan pecandu tidak akan terjerumus kembali ke dalam penyalah-gunaan narkoba, hal itu disebabkan oleh adanya perasaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah, sehingga dia akan menjauhi segala perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.

Dalam agama Islam bagi mereka yang sakit (pecandu) dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya dan juga harus disertai dengan do'a dan dzikir. Bagi umat Muslim berdoa dan berdzikir merupakan suatu komitmen keimanan seseorang.

Sebagaimana menurut pendapat Al- Maraghi (1993:179) “Do'a adalah permohonan yang dimunajatkan kepada Allah swt, sang Maha segalanya. Sedangkan Dzikir adalah mengingat Allah swt dengan segala cara yang dapat terus mengingat keagungan-Nya”.

Pengertian dzikir tidak hanya terbatas pada bacaan dzikir nya itu sendiri (arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan dan segala perbuatan, yang merupakan segala amal kebaikan yang telah diperintahkan oleh agama.

Menurut Kauma (2002:7) "dipandang dari sudut kesehatan jiwa, do'a dan dzikir mengandung unsur psychotherapic yang mendalam, karena ia mengandung kekuatan spiritual dan kerohanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme".

Rasa percaya diri dan optimisme merupakan dua hal yang sangat menentukan bagi penyembuhan, disamping obat-obat dan tindakan medis lainnya.

Dalam ajaran Islam diwajibkan bagi orang yang beriman menjalankan ibadah karena sesungguhnya dengan beribadah itu dapat mencegah diri dari berbuat kejahatan, termasuk di dalamnya penyalah-gunaan narkoba.

Khususnya inti dari ibadah shaum adalah pengendalian, karena mengendalikan diri itu memerlukan latihan dan perjuangan mengekang hawa nafsu yang cukup berat. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa sesungguhnya perang terbesar di muka bumi adalah perang melawan hawa nafsu dirinya sendiri oleh karena itu sebagai umat Islam hendaklah meningkatkan iman dan ketaqwaan dalam mengamalkan rukun Islam dan rukun iman secara konsekuen dan konsisten.

0 BAB III ANALISIS PERMASALAHAN (Part 3)

C. DOA DAN DZIKIR SEBAGAI PELENGKAP UPAYA PENANGGULANGAN

Menurut Hawari (2004:65) “Keluarga pecandu diharapkan segera memotivasi diri untuk menjadi keluarga yang sakinah, harmonis, dan bahagia, karena itulah harapan para remaja untuk keluarganya”.

Keluarga juga harus memotivasi anak agar selalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah swt untuk memohon pertolongan dan juga untuk memohon ampunan.
Firman Allah swt dalam Surat Al-baqoroh ayat 186, sebagai berikut:

Artinya:
"Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Depag, 2004:45)

Ayat ini, mengandung suatu dorongan agar manusia berdoa hanya kepada Allah swt, niscaya Allah akan mengabulkan doa nya. Dengan syarat mereka dapat memenuhi segala perintah Allah, yaitu beriman kepada Allah, beribadah kepada Allah, dan menjauhi segala perbuatan yang dapat mengundang murka-Nya.

Juga Allah swt berfirman dalam Surat Ar-Ra'du ayat 28:


Artinya:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram". (Depag, 2004: 373)

Dengan selalu mengingat Allah swt, mantan pecandu tidak akan terjerumus kembali ke dalam penyalah-gunaan narkoba, hal itu disebabkan oleh adanya perasaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah, sehingga dia akan menjauhi segala perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.

Dalam agama Islam bagi mereka yang sakit (pecandu) dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya dan juga harus disertai dengan do'a dan dzikir. Bagi umat Muslim berdoa dan berdzikir merupakan suatu komitmen keimanan seseorang.

Sebagaimana menurut pendapat Al- Maraghi (1993:179) “Do'a adalah permohonan yang dimunajatkan kepada Allah swt, sang Maha segalanya. Sedangkan Dzikir adalah mengingat Allah swt dengan segala cara yang dapat terus mengingat keagungan-Nya”.

Pengertian dzikir tidak hanya terbatas pada bacaan dzikir nya itu sendiri (arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan dan segala perbuatan, yang merupakan segala amal kebaikan yang telah diperintahkan oleh agama.

Menurut Kauma (2002:7) "dipandang dari sudut kesehatan jiwa, do'a dan dzikir mengandung unsur psychotherapic yang mendalam, karena ia mengandung kekuatan spiritual dan kerohanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme".

Rasa percaya diri dan optimisme merupakan dua hal yang sangat menentukan bagi penyembuhan, disamping obat-obat dan tindakan medis lainnya.

Dalam ajaran Islam diwajibkan bagi orang yang beriman menjalankan ibadah karena sesungguhnya dengan beribadah itu dapat mencegah diri dari berbuat kejahatan, termasuk di dalamnya penyalah-gunaan narkoba.

Khususnya inti dari ibadah shaum adalah pengendalian, karena mengendalikan diri itu memerlukan latihan dan perjuangan mengekang hawa nafsu yang cukup berat. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa sesungguhnya perang terbesar di muka bumi adalah perang melawan hawa nafsu dirinya sendiri oleh karena itu sebagai umat Islam hendaklah meningkatkan iman dan ketaqwaan dalam mengamalkan rukun Islam dan rukun iman secara konsekuen dan konsisten.


0 BAB III ANALISIS PERMASALAHAN (Part 2)

B. KELUARGA SEBAGAI SARANA PENANGGULANGAN

Keluarga (orang tua) memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian remaja, selain orang tua sebagai pelindung anggota keluarga dari kejahatan yang menjerumuskan, orang tua pun memegang peranan sebagai pendidik di dalam keluarga.

Dalam Al-Quran Surat At-Tahrim ayat 6, Allah swt berfirman:

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (Depag, 2004: 230)

Dapat dipahami, bahwa keluarga merupakan pelindung anggota dari berbagai hal yang dapat mencelakakan dan menjerumuskan. Maka dari itu, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memelihara diri dan keluarganya dari api neraka, yaitu dari perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

Dalam interaksi keluarga, harus diterapkan prinsip-prinsip pendidikan seperti pendidikan Luqmanul Hakim kepada anaknya (SADAR no IV, 2007: 15). Seperti yang tercermin dalam Firman Allah swt, Surat Luqman ayat 13:


Artinya:
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah swt, sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Depag, 2004: 655)
 
Juga pada Surat Luqman ayat 16:


Artinya:
“Luqman berkata, “hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu, atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah maha halus (maha meliputi segala sesuatu, bahkan sampai yang paling kecil sekalipun) dan maha mengetahui”. (Depag, 2004: 655)

Kedua ayat di atas, merupakan nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya. Pada ayat 13, Luqman berpesan agar anak-anaknya menyembah Allah swt semata, tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun dan Luqman pun memperingatkan bahwa syirik adalah benar-benar kedzaliman yang besar.

Pada ayat 16, Luqman berpesan kepada anak-anaknya, bahwa segala perbuatan itu harus karena Allah swt, bahkan sampai perbuatan yang kecil pun. Karena sesungguhnya Allah itu maha halus dan maha mengetahui, sehingga perbuatan apapun yang dilakukan, baik itu yang besar atau yang kecil, yang dzahir atau yang tersembunyi akan mendapatkan balasannya dari Allah swt. 

Karakter pendidik sebagaimana ditampilkan Luqmanul Hakim, yaitu seperti bertauhid dan bertaqwa kepada Allah swt, berbakti kepada kedua orangtua, berpengetahuan luas, berakhlaqul-karimah, ikhlas, tabah, dan menumbuhkan tanggung jawab pada diri anak, harus diterapkan dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari.  

Adapun mengenai pentingnya orangtua memberikan pendidikan kepada anak, Rasulullah saw bersabda (An-Nawawi, 1995:314): “Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya, daripada pendidikannya yang baik”. (H.R. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Pemberian yang lebih utama dan lebih baik adalah mendidik anak agar menjadi seorang remaja yang terdidik, baik secara keimanan, intelektual juga secara fisik.
Menurut Soeryana (2008), “pendidikan intelektual dapat dibangun dengan cara menumbuhkan pemikiran anak dengan ilmu-ilmu yang bersifat ilmiah”.

Pendidikan intelektual tersebut berupa ilmu-ilmu syariat, kebudayaan ilmiah dan modern, kesadaran intelektual dan peradaban. Sehingga anak matang dalam pemikiran dan sikap ilmiah nya.

Selain itu, untuk menumbuhkan anak menjadi seorang remaja yang lengkap dan terdidik secara sempurna, anak harus mendapatkan pendidikan fisik, sebagai persiapan pendidikan moral untuk membentuk akhlak dan kebiasaan.

Mengenai pendidikan fisik, Rasulullah saw bersabda (An-Nawawi, 1995: 295): “Ajarilah anak-anak laki-laki kamu sekalian berenang dan memanah, serta ajarkan kepada anak wanita keterampilan menenun”. (HR. Baihaqy)

Memanah, berenang, berkuda, dan lain-lain merupakan olahraga pada zaman Rosulullah saw, hal tersebut merupakan persiapan untuk melatih fisik anak, agar anak-anak tumbuh seiring dengan baiknya pertumbuhan fisik, sehat badan, bergairah, dan bersemangat.

Adapun menurut Abdurrahman (2005:161), “pendidikan fisik yang dapat diterapkan kepada anak selain pendidikan olahraga adalah dengan menerapkan aturan yang sehat ketika melakukan segala perbuatan”.

Selain itu, anak juga harus dibiasakan untuk menghindari tempat yang dianggap bisa menularkan penyakit, bersungguh-sungguh dan menghindari penyimpangan, juga anak harus dibiasakan hidup sederhana, tidak mewah dan tidak tenggelam dalam kenikmatan.

Hal ini termasuk diantara kebiasaan yang dilakukan oleh nabi dalam mendidik keluarga dan kaum muslimin, yang dimulainya oleh beliau sendiri kemudian diikuti jejaknya oleh pengikutnya.

Itulah peranan keluarga yang seharusnya ditampilkan dalam keluarga, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat, yaitu keluarga yang mampu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, dengan harapan agar anak menjadi remaja yang mampu mengemban kewajiban, menunaikan risalah, dan melaksanakan tanggung jawab.

Maka, dapat dipahami bahwa pendidikan keimanan merupakan pendidikan dasar, pendidikan fisik sebagai persiapan pendidikan moral untuk membentuk akhlak dan kebiasaan, sedangkan pendidikan intelektual untuk penyadaran dan pembudayaan.

Namun pada kenyataan yang ada sekarang tidak demikian, seperti pada pendapat Ny Retno T susilowati (SADAR no I, 2007: 20), “dalam praktek sehari-hari sering dijumpai bahwa keluarga tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa anak remajanya terlibat penyalah-gunaan narkoba. Banyak diantara anak remaja yang sudah terlibat dalam penyalah-gunaan narkoba bertahun-tahun lamanya tanpa diketahui oleh keluarganya”.

Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua dan kepandaian remaja memanipulasi keterlibatan nya dalam penyalah-gunaan narkoba sehingga orang tua dapat dibohongi.

Maka sebagai orangtua yang beriman, pengetahuan yang berkaitan dengan hal ikhwal penyalah-gunaan narkoba sangat diperlukan, guna mencegah dan sesegera mungkin menanggulangi remaja yang sudah terlibat. 

Dari hasil wawancara penulis dengan bapak H. Drs Ipin Sopandi pada tanggal 27 - 29 Desember 2007, agar tidak terjadi hal seperti di atas, maka para orangtua harus mewaspadai gejala-gejala dini anak remaja, diantaranya:

a. Mengenali Gejala,

Orang yang menyalahgunakan narkoba, biasanya dapat dilihat dari gejala-gejala, misalnya remaja menjadi kehilangan nafsu makan sehingga berat badan semakin menurun, tubuh lesu dan lemah, muka pucat, mata cekung, sering mengantuk dan tidur, cara jalan tidak teratur, menjadi tidak memperhatikan kebersihan dirinya.

b. Mengenali Alat-alat yang Sering Digunakan

Jika ada benda-benda tersimpan di tempat yang tidak biasanya, dan tersembunyi (biasanya di dalam kamar), maka setidaknya orang tua harus mewaspadai, benda-benda itu antara lain:
1) Kertas timah, yang berasal dari bekas bungkus rokok, atau bekas permen atau coklat. Kertas ini biasanya ditemukan seperti sudah dibakar.
2) Korek atau lilin, yang digunakan untuk membakar kertas timah yang di atasnya ditaburi putaw. 
3) Kertas atau uang yang dilinting, gunanya untuk menghisap putaw hasil pembakaran di atas kertas tadi.
4) Sendok makan yang biasanya berada di dapur, digunakan sebagai tempat melarutkan putaw yang sudah dicampur dengan air, dan kemudian dihangatkan dengan lilin.
5) Suntikan, digunakan untuk menyuntikkan cairan putaw yang sudah dihangatkan tadi.
6) Kapas, digunakan untuk membersihkan darah dari bekas suntikan. 
7) Karet atau tali, gunanya untuk mengikat lengan bagian atas, sehingga memudahkan penyuntikan. 
8) Plastik atau CD, digunakan sebagai tempat membagi-bagi serbuk putaw menjadi paket-paket kecil
9) Kartu telepon bekas atau silet, digunakan untuk membagi-bagi serbuk putaw
10) Bong, alat khusus untuk menghisap shabu-shabu. Tabung gelas yang setengahnya berisi air dengan dua buah sedotan yang satu terendam air, dan yang satu lagi tidak terkena air. 

c. Mengenali Perubahan Kebiasaan Remaja

Selain perubahan perilaku, ada beberapa perubahan yang tidak wajar, antara lain: mengurung diri dan mengunci diri berlama-lama di dalam kamar. Kebiasaan yang tidak wajar ini, adalah dimana mereka sedang menikmati narkoba. 

Jika orangtua melihat hal yang di luar kebiasaan anaknya (tidak wajar), maka orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter, dan jika ternyata memang anak tersebut positif sebagai pecandu narkoba, segera berobat, terapi, dan rehabilitasi. Untuk mencegah kemungkinan anak akan semakin parah. 

0 BAB III ANALISIS PERMASALAHAN (Part 1)

A. PRIBADI SEBAGAI PENENTU KEBERHASILAN PENANGGULANGAN 

Bagaimanapun cara penanggulangan yang diupayakan untuk menanggulangi penyalahgunaan narkoba, hal itu dikembalikan lagi kepada pribadi pecandu narkoba tersebut. Menyalahgunakan narkoba kembali atau tidak, itu tergantung kepada pribadi pecandu narkoba.

Adapun alasan pecandu untuk mengakhiri menyalahgunakan narkoba diantaranya:

1. Ada keinginan yang kuat dari pribadi pecandu untuk terlepas dari narkoba.
2. Pecandu merasa takut dengan akibat yang akan ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba.
3. Adanya motivasi dari pihak-pihak yang bersangkutan untuk berhenti menyalahgunakan narkoba.
4. Adanya tindakan yang tegas dari pihak berwenang, seperti hukuman yang sangat berat, sehingga pecandu memilih untuk mengakhiri menyalahgunakan narkoba.
5. Faktor kebiasaan, pecandu di tempatkan di lingkungan yang agamis, sehingga pacandu mulai terbiasa untuk berhenti menyalahgunakan narkoba. 


0 BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Part 4)

D. BAHAYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Penyalah-gunaan narkoba akan menyebabkan gangguan kesehatan fisik, mental dan kehidupan sosialnya dan tentu saja akan merugikan semua pihak yang berkaitan.

Adapun bahaya penyalah-gunaan narkoba, diantaranya:

1. Terhadap Organ Tubuh


Narkoba memiliki dampak yang sangat merugikan bagi tubuh. Secara garis besar bahaya narkoba, diantaranya: 

a. Pengaruh narkoba terhadap darah 
Menurut Al-Ghifari (2003:25), “darah mempunyai urgensi besar dalam tubuh manusia”. Maka jika darahnya tercampur dengan narkoba, kinerja darah akan terganggu.. Terkadang narkoba dapat menghentikan darah sebentar sehingga yang bersangkutan mati mendadak. 
Al-Ahmady (2000:42) menjelaskan bahwa “akibat narkoba, elastisitas urat nadi menjadi melemah, kemudian ia mengeras hingga ia terkadang tersumbat atau menyempit kemudian yang bersangkutan menderita penyempitan pembuluh darah (Arteriosclerosis)”.  

b. Penyempitan Otak
Dengan masuknya narkoba ke dalam pembuluh darah, maka aksinya pindah ke lokasi yang amat strategis dan sempurna, yaitu urat syaraf pusat dan otak.
‘Bagian yang pertama terpengaruh oleh narkoba ialah daerah yang menghubungkan antara dua belahan otak kanan dan otak kiri. Daerah itulah yang menjalankan tugas emosi, berpikir, dan bertindak. Sesudah itu, organ-organ penggerak yang ada dalam tubuh menjadi terpengaruhi. Perasaan juga ikut terpengaruhi, kemudian yang bersangkutan menjadi sedih. Sudah tentu organ urat syaraf dan sel-selnya berusaha melindungi diri dari zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh, kemudian terbentuklah semacam kekebalan melawan zat-zat asing tersebut. Karena itulah para pecandu narkoba merasa perlu mengkonsumsi narkoba lebih banyak lagi untuk mendapatkan pengaruh yang besar yang diharapkan. Dari sini lah kecanduan dimulai setelah beberapa minggu pemakainya menjadi budak narkoba. Ia tidak mampu bekerja atau tidak bisa ingat atau tidak bisa bertindak tanpa narkoba”. (Al-Ghifari, 2003: 28)

c. Sel-sel dan Urat Syaraf
Otak terdiri dari jutaan sel urat syaraf yang bekerja siang dan malam dengan cara yang konsisten. Semua sel otak menjalankan tugas khusus. “Ada sel yang tugasnya berbicara, ada sel yang bertugas mendengar, ada sel yang bertugas melihat dan lain sebagainya”. (Al-Ghifari, 2003: 28)
Kecanduan narkoba apapun bentuknya itu mengacaukan otak dan melumpuhkan tugas sehari-harinya. Untuk selanjutnya manusia menjadi budak narkoba dan merusak secara periodik terhadap sel-sel syaraf. 

d. Hati
Hati adalah organ yang paling vital dalam tubuh dan merupakan sentral kehidupan. Hati inilah yang mendistribusi apa saja yang dibutuhkan oleh semua otot dan mendistribusi apa saja yang di butuhkan seluruh organ tubuh. Tugas-tugas pentingnya kini dihapus, atau terhambat akibat pengaruh narkoba.

e. Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT)
Pengaruh narkoba terjadi secara langsung pada hidung, karena hidung adalah pintu masuk semua zat-zat narkoba. (Al-Ghifari, 2003: 29)
Dalam dunia kesehatan (Hawari, 2004: 81) “Narkoba menyebabkan pengurusan dan pengikisan selaput lendir hidung. Penggunaan yang terus menerus menyebabkan terjadinya lubang di sekat hidung, dan kerusakan hidung menyebabkan terbentuknya kulit tebal di hidung, yang melemahkan indra penciuman. Narkoba menyebabkan penghambatan pernafasan, dan keringnya tenggorokan”.

f. Keturunan
Pecandu narkoba meninggalkan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan kepada anak keturunannya. Ia menjadikan anak-anaknya terancam tidak tumbuh secara sempurna, karena narkoba meresap ke dalam semua sel-sel tubuh terutama urat syaraf dan tidak terkecuali spermatozoon, sebab serangan narkoba menyerang melalui pembuahan ovum wanita, akibatnya bakal janin menjadi sakit, sehingga terlahirlah anak yang kurang sempurna pembentukannya, dan anak mengalami kesulitan pernafasan dan debaran hatinya sangat tinggi.
Hal tersebut serupa dengan yang di ungkapkan oleh Hawari (2004:82) juga menurut Martono (2006: 16)

2. Terhadap Etika dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ekses negatif narkoba bukan hanya terbatas pada kesehatan fisik dan psikis si pemakai, tetapi juga akan diikuti dengan ekses sosial ekonomi yang sangat merugikan, seperti perkelahian, pencurian, pembangkangan terhadap orang tua, pembunuhan, dan lain sebagainya. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah, ayat 91: 

"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhenti lah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)". (Depag,2004:177)

Ayat ini secara tegas menyebutkan akan terjadi malapetaka sosial, jika khamr dan zat yang memabukkan lainnya semakin merajalela. Untuk itu tidak salah jika Islam mengharamkan khamr dan narkoba atau zat-zat yang memabukkan lainnya.
Manusia sebagai hamba Allah diwajibkan untuk beribadah, sesuai dengan perintahnya. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al-Qur'an, Surat An-nisa 36:

Artinya:
 "Sembah lah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-Bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (Depag,2004:124).

Seseorang diwajibkan untuk beribadah kepada Allah swt dan dilarang untuk menyekutukan-Nya, juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia, terutama orang tua. Dalam artian seseorang dituntut untuk memiliki etika kapan pun dan dimanapun dia berada.
Pada kenyataannya, orang yang kecanduan narkoba berperilaku sebaliknya, tidak beretika, membiasakan diri dengan tradisi buruk, seperti selalu meninggalkan kewajibannya terhadap Allah swt, membangkang terhadap orangtua, berdusta, dan menyepelekan nilai-nilai dan moral, juga teladan yang tinggi. Ia terdorong untuk berbuat jahat, seperti mencuri, merusak, menyakiti diri sendiri, dan membunuh. Ia akan ditimpa kemerosotan akhlaq juga akan menghalalkan segala perbuatan demi memenuhi kemauan nya.

Dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari, selalu terjadi permusuhan dan perselisihan diantara sesama. Dan suasana hidup nyaman dan tentram menjadi terganggu. 


0 BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Part 3)

C. FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Sebagian remaja menyalahgunakan narkoba adalah sebagai jalan keluar untuk menghindar dari kesulitan hidup dan konflik-konflik batin yang berat. Pada umumnya mereka yang biasa hidup mewah, tidak bisa menghadapi masalah-masalah berat, kurang mendapat sentuhan iman dan akhlak, disamping itu jiwanya sangat labil sehingga pada saat dirinya dihadapkan pada berbagai macam kesulitan yang berat yang tidak mereka bayangkan sebelumnya, sementara itu dia tidak mampu menyelesaikannya, maka pada akhirnya pada penyalah-gunaan narkoba, sebagai jalan untuk mencari penenang dari rasa ketakutan dan kerisauan hatinya.

Namun hal ini bukan berarti remaja yang tidak terbiasa dengan kemewahan tidak akan terjerumus ke dalam penyalah-gunaan narkoba, karena jika mereka mau, narkoba akan mudah didapat, disebabkan harganya yang terjangkau.  
Budiman (2007) berpendapat, ada tiga faktor yang saling berinteraksi yang mendorong remaja menyalahgunakan narkoba, diantaranya adalah:

1. Faktor Individu 

Penyebab terpenting dalam masalah penyalah-gunaan narkoba adalah karena seseorang harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Penyalah-gunaan narkoba dipengaruhi oleh keadaan mental, fisik, dan psikis seseorang. Kondisi mental seperti gangguan kepribadian, depresi, dan gangguan mental dapat memperbesar kecenderungan seseorang untuk menyalahgunakan narkoba.

Dalam dokumen BNK Samarinda (Kompas, 2007) disebutkan bahwa “faktor yang menyebabkan remaja menyalahgunakan narkoba, salah satunya adalah faktor dari individu itu sendiri antara lain: emosional dan mental serta perasaan rendah diri”.

Pada masa-masa ini biasanya remaja ingin lepas dari segala aturan-aturan dari orang tua mereka. Dan akhirnya sebagai tempat pelarian yaitu dengan menyalahgunakan narkoba. Lemahnya mental seseorang akan lebih mudah dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan negatif yang akhirnya menjurus pada penyalah-gunaan narkoba. 
 
2. Faktor lingkungan 

Nasir (2002:86) berpendapat, penyebab remaja menyalahgunakan narkoba yang berasal dari lingkungan dibagi menjadi tiga bagian:

a. Lingkungan Keluarga 
Rasa cinta kasih sayang yang tidak merata terhadap anak, mungkin disebabkan karena kelahiran anak yang tidak dihendaki orang tuanya atau karena disharmonis di dalam keluarga yang menyebabkan anak merasa diterlantarkan oleh orang tuanya. 

Muhyidin (2004:23) menambahkan bahwa “orang tua yang sibuk, kurang memberi teladan yang baik dan kurang mengetahui tentang cara-cara mendidik yang baik menyebabkan anak kurang terbina sehingga anak rentan terhadap penyalah-gunaan narkoba”.

Selain itu, orang tua yang kurang memberikan dasar agama, mental, budi pekerti serta disiplin dan tanggung jawab yang baik. Sehingga anak mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif.
Faktor lainnya yang menjadi faktor pendorong adalah “berasal dari sikap orang tua yang terlalu protektif terhadap anaknya. Biasanya, hal itu membuat anak merasa kurang percaya diri dan kurang rasa harga diri pada anak”. (Al-Ghifari, 2003:17)

Atau cara berkomunikasi yang keliru pada anak, seperti meremehkan pendapat, mengancam, selalu mengkritik tapi tidak mau menerima saran, dan lain-lain. Hal tersebut dapat memicu anak berlaku menyimpang dengan mencoba narkoba.

b. Lingkungan Sekolah 
Adanya dorongan dan paksaan dari teman sebaya, menyebabkan individu harus mencicipi sedikit dari barang haram tersebut, namun karena adanya rasa ketagihan sehingga individu pun akhirnya terjerumus ke dalamnya.

Menurut Zainab Al-Ghazali (2000:40), ”hal tersebut disebabkan kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang bersangkutan, sehingga narkoba lebih mudah masuk ke dalam lingkungan sekolah. Juga karena tidak adanya interaksi antara guru dan murid, sehingga guru kurang mengetahui masalah anak di luar proses belajar mengajar”.


c. Lingkungan Masyarakat 
“Faktor-faktor lingkungan masyarakat masih kurang menguntungkan bagi perkembangan remaja, diantaranya remaja kurang diikutsertakan dalam keorganisasian masyarakat, cara pendekatan yang kurang tepat, kurang teladan yang positif dari masyarakat” (Soedarsono, 1989: 31). 

Tidak terpenuhinya kehendak remaja menyebabkan minat dan bakatnya disalurkan kepada hal-hal yang kurang wajar, salah satunya dengan menyalahgunakan narkoba. 

3. Faktor obat 

Di zaman modern sekarang ini peredaran narkoba semakin pesat, sehingga penyalah-gunaan narkoba kini bukan hanya dikonsumsi oleh remaja di kota-kota besar saja, melainkan remaja di pedalaman. 

Dan menurut Martono dan Joewana (2006:20), ada lima faktor utama penyebab seseorang rawan terhadap narkoba. Diantaranya:

a. Keyakinan Adiktif 

Di dalam kamus bahasa Indonesia (Pratiwi, 2005: 90) “Keyakinan adiktif adalah keyakinan tentang diri sendiri, tentang orang lain dan dunia sekitarnya”. Semua keyakinan itu menentukan perasaan-perasaan, kepribadian, dan perilakunya sehari-hari. Beberapa keyakinan yang menjadi pendorongnya adalah: saya harus sempurna dan tampil sempurna, saya harus menguasai dan mengendalikan orang lain atau keadaan, saya harus memperoleh yang saya inginkan, dan sebagainya.

b. Kepribadian Adiktif

Di antara ciri-ciri dari kepribadian adiktif, adalah terobsesi pada diri sendiri, kurangnya jati diri, hidup tanpa makna dan tujuan, tidak mampu mengendalikan emosi, depresi, dan sebagainya

c. Ketidakmampuan Menghadapi Masalah

Banyak orang yang tinggal dalam keadaan yang salah dan keliru, sedikit sekali orang yang dapat dijadikan teladan, sehingga mereka tidak terlatih untuk menyelesaikan masalah secara baik dan benar. Sebaliknya mereka lebih suka menyelesaikan masalah pada saat itu juga, yang langsung dapat memuaskan keinginannya.

d. Tidak Terpenuhinya Kebutuhan Emosional, Sosial, dan Spiritual

Banyak orang tidak memperoleh kebutuhan yang seharusnya diterima, yaitu penerimaan tanpa syarat, keakraban, rasa aman, makna dan tujuan hidup, kemandirian dan kegembiraan. Ketidakmampuan mengatasi masalah dan toleransi terhadap stress, frustasi, kesepian, yang menjadi pemicu untuk mencari pemuasan, pelampiasan, dan rasa nyaman hanya dengan mengkonsumsi narkoba.

e. Kurangnya Dukungan Sosial

Tanpa dukungan sosial yang memadai dari keluarga, sekolah, masyarakat, ketidakmampuan menghadapi masalah, menyebabkan remaja mencari penyelesaiannya pada narkoba.

Selain itu, ada tiga alasan yang menyebabkan remaja menyalahgunakan narkoba, diantaranya:
a. Anticipatory beliefs, yaitu anggapan bahwa jika memakai narkoba orang akan menilai dirinya hebat, dewasa, mengikuti mode, dan sebagainya.
b. Reliefing beliefs, yaitu keyakinan bahwa narkoba dapat digunakan untuk mengatasi ketegangan, kecemasan, dan depresi akibat stress.
c. Facilitative beliefs, yaitu keyakinan bahwa penggunaan narkoba merupakan gaya hidup atau kebiasaan karena pengaruh zaman atau perubahan nilai sehingga dapat diterima (Ramayulis, 1996: 17)

0 BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Part 2)

B. PENYALAHGUNAAN NARKOBA 

1. Pengertian Narkoba

Narkoba (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) merupakan obat atau bahan atau zat yang jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntikkan, akan berpengaruh terutama pada kerja otak dan sering menyebabkan ketergantungan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Kombes Pol Pur Drs M. Wresniwiro (2007, 18), bahwa “istilah narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat (bahan adiktif) lainnya, yang dapat mengakibatkan penurunan atau perubahan kesadaran, dan dapat menimbulkan ketergantungan”.

Penyalah-gunaan narkoba menyebabkan kerja otak berubah, demikian pula fungsi vital organ tubuh lainnya (jantung, peredaran darah, pernafasan dan lain-lain). Juga akan mengakibatkan perubahan pikiran, perasaan, dan tingkah laku pemakainya serta menyebabkan gangguan fisik dan psikis juga kerusakan susunan syaraf pusat, bahkan sampai menyebabkan kematian. 
Anwar (http://baharuddien_anwar.blogspot.com,2008) berpendapat bahwa ”narkoba adalah istilah yang dikenal di masyarakat juga digunakan dalam istilah aparat penegak hukum, sehingga penggunaan, pembuatan, dan peredarannya diatur dalam undang-undang. Maka barang siapa yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman”. 

Sedangkan istilah NAPZA atau NAZA sering digunakan dalam bidang kedokteran. Hal ini diungkapkan juga oleh Joewana (2006:5) bahwa “NAPZA atau NAZA adalah istilah dalam dunia pengobatan, dan yang termasuk NAPZA adalah obat, bahan, atau zat yang tidak diatur dalam Undang-undang, tetapi menimbulkan ketergantungan dan sering disalah-gunakan”.

Di masa Rasulullah SAW tidak dikenal istilah narkoba, namun secara tersirat hukum narkoba telah dijelaskan oleh Rasulullah. 
Khamr adalah bahasa Arab yang asal katanya “khamara” yang artinya menutupi. Sama seperti halnya yang telah dijelaskan oleh Umar bin Khatab (Muhammad,www.google.co.id,2008) bahwa “khamr itu artinya menutup atau menghilangkan akal. Jadi, narkoba diidentikkan sebagai khamr, karena keduanya sama-sama dapat menutup atau menghilangkan akal”.

Terlebih lagi Rasulullah saw mensinyalir bahwa suatu saat khamr akan ada dengan nama yang bervariasi. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majjah, bahwa “tidak akan kiamat sebelum umat nabi Muhammad meminum khamr dengan menggunakan nama lain”.

 Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa narkoba termasuk khamr.
Keharaman khamr (narkoba) tidak terbatas banyak atau sedikit, jika banyak memabukkan, maka sedikitpun tetap haram meskipun yang sedikit itu tidak memabukkan
Sebagaimana dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar (Hawari, 2004:2): "Setiap yang memabukkan adalah khamr, sedangkan setiap khamr itu adalah haram".

Pelarangan khamr dilakukan melalui beberapa tahapan. Hal ini dilakukan karena orang-orang pada zaman itu hidup dalam kultur budaya peminum khamr. Maka sangatlah sulit dan berat bagi mereka untuk menerima larangan dengan meninggalkan tradisi mereka itu secara mutlak. Sehingga, pensyari’atan hukum dalam pelarangan khamr dilakukan secara bertahap hingga sampai kepada pengharaman khamr secara mutlak.

Tahapan-tahapan hukum pengharaman minum khamr adalah sebagai berikut: 
1. Firman Allah swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 219:

Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (Depag, 2004: 53)
Ayat ini mengandung persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr, karena sesungguhnya akal menghendaki agar tidak melakukan suatu perbuatan yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.

2. Firman Allah swt dalam surat An-Nisaa’ ayat 43:  

  
Artinya: 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (Depag, 2004:125)

Ayat ini sebagai latihan untuk meninggalkan khamr pada sebagian waktu, yaitu waktu-waktu shalat.

3. Firman Allah swt dalam Surat Al-Maidah 90-91:


Artinya:
  Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhenti lah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Depag,2004:177)
Ayat ini sebagai penegasan keharaman khamr serta menjelaskan dampak negatif dari meminum khamr, baik bagi pribadinya maupun masyarakat.

 Dapat disimpulkan bahwa narkoba adalah obat atau zat atau bahan yang jika diminum, di hisap, di hirup, ditelan, atau disuntikkan akan menyebabkan gangguan fisik dan psikis serta kerusakan syaraf pusat, bahkan sampai dengan menyebabkan kematian. Narkoba diharamkan sebagaimana diharamkannya khamr.

2. Penggolongan Narkoba
Menurut Wresniwiro (2007:19) jenis-jenis narkoba terbagi kepada tiga bagian:

a. Narkotika, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menurunkan dan merubah ingatan atau kesadaran. Hawari (2004: 43) berpendapat, ada beberapa jenis narkotika yang sering disalah-gunakan, diantaranya:

1) Ganja, mengandung zat kimia yang disebut deta-g-tetrahidolcalbinol (THC). Ganja dapat mempengaruhi indra pendengaran dan penglihatan, menghilangkan konsentrasi dalam berpikir, denyut nadi cenderung meningkat, keseimbangan dan koordinasi tubuh menjadi buruk, mudah ketakutan, mudah panik, depresi, kebingungan, dan sering berhalusinasi.
2) Opium, berasal dari getah pohon candu yang menyebabkan pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan, kerusakan pada hati (liver), dan ginjal.
3) Shabu-shabu dan kokain, crystal berisi methamphetamine yang menyebabkan tubuh bertahan segar bugar untuk waktu tertentu, selalu merasa bersemangat, gelisah, tidak bisa diam, tidak nafsu makan, paranoid, fungsi liver terganggu.
4) Putaw, heroin yang merupakan zat psychoactive kuat dan menimbulkan ketergantungan yang amat tinggi. Putaw berbentuk bubuk berwarna putih sampai coklat tua.

b. Psikotropika, biasa digunakan oleh psikiater untuk menyembuhkan orang gila, orang yang ingin melakukan bunuh diri dan lain-lain. Efek sampingnya bisa menyebabkan kematian.

c. Zat Adiktif, Etil alkohol yang terdapat dalam zat adiktif, mempunyai efek menekan aktivitas susunan syaraf pusat. 

Sedangkan bentuk dan wujud narkoba, menurut Al-Ghifari (2003: 14), terbagi kepada dua wujud, yaitu:
a. Narkotika alam, jenis nature dedaunan dan getah yang tekhnis penggunaannya sangat praktis, yang terdiri dari
1). Bentuk daun, misalnya: ganja, wujudnya mirip daun teh kering, warnanya hijau kecoklatan.
2). Bentuk getah, misalnya cannabis, wujudnya cairan kental, warnanya coklat tua.
b. Narkotika synthetic, jenis yang diolah secara kimiawi, terdiri dari:
1). Bentuk cairan, misalnya: morphine, wujudnya mirip cairan alkohol murni, warnanya bening.
2). Bentuk tablet atau kapsul, misalnya: tablet cosadon, warnanya merah muda, megadon, warnanya putih, rohypnool, warnanya putih, kapsul Nembutal, warnanya kuning, trandene 10, warnanya kuning tua.
3). Bentuk serbuk, misalnya morphine dan heroin putih, wujudnya mirip tepung, warnanya putih.

3. Cara kerja narkoba

“Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan, yang disebut sistem limbus, dan di dalamnya terdapat hypothalamus (pusat kenikmatan pada otak”. (Wresniwiro, 1999: 78) 

Narkoba menghasilkan perasaan fly (berangan-angan) dengan mengubah susunan biokimia molekul pada sel otak yang disebut neuron-transmitter.

Dapat dikatakan, otak bekerja sesuai keinginan. Otak kita memang dilengkapi alat untuk menguatkan rasa nikmat dan menghindarkan rasa sakit atau tidak enak, guna membantu kita memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti rasa lapar, haus, rasa hangat, dan tidur. Jika kita lapar, otak menyampaikan pesan agar mencari makanan yang kita butuhkan. Kita berupaya mencari makanan itu, dan menempatkannya di atas segala-galanya. Kita rela meninggalkan kegiatan lain, demi memperoleh makanan itu.

Senada dengan pendapat di atas, Yatim (1991:5) mengungkapkan “jika mengkonsumsi narkoba, otak akan membaca tanggapan pecandu. Jika merasa nikmat, otak mengeluarkan neo transmitter yang menyampaikan pesan untuk mengulangi pemakaiannya. Jika memakai narkoba lagi, pecandu kembali merasa nikmat, seolah-olah kebutuhan tersebut terpuaskan. Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas”.

 Akibatnya, otak membuat program yang salah, seolah-olah pecandu memang memerlukannya sebagai pertahanan diri, maka terjadilah kecanduan.

4. Permasalahan narkoba

“Di dunia, United Nations Office on Drugs and Crimes (UNODC) memperkirakan pada tahun 2000-2001 di seluruh dunia terdapat sekitar 200 juta orang penyalah-guna narkoba, diantaranya 163 juta orang penyalah-guna ganja, 34 juta orang penyalah-guna amphetamine, 8 juta orang penyalah-guna ecstasy, 14 juta orang penyalah-guna kokain, 15 juta orang penyalah-guna jenis-jenis opium (10 juta orang diantaranya terdapat penyalah-guna heroin)”. (SADAR no IX, 2007:6)

Sementara permasalahan narkoba di dunia internasional menunjukkan keadaan stabil. Demikian pula situasi permasalahan narkoba di negara-negara tetangga yang sudah mulai menunjukkan keadaan terkendali. Sebaliknya di tanah air penyalah-gunaan narkoba terus menunjukkan peningkatan tajam, seperti yang tercermin dari fakta dan angka-angka dibawah ini:

a. Tahun 2001 dan 2002, terungkap masing-masing satu buah laboratorium dan pabrik ecstasy besar, yang mengidentifikasikan telah beralih nya posisi Indonesia dari sebagai wilayah sasaran peredaran narkoba gelap menjadi wilayah produksi. 

b. Tahun 2003. Di Cipondoh Tangerang terungkap satu buah laboratorium gelap ecstasy terbesar di dunia yaitu milik Ang Kim Soey. (Kompas, 2004:10)

c. Tahun 2005. Lima buah laboratorium dan pabrik percetakan ecstasy dan shabu gelap yang besar di ungkap dan digerebek, di berbagai tempat di Indonesia dan salah satunya ketiga terbesar di dunia, yaitu terungkap di Cikande Serang Banten, milik Benny Sudrajat. (Koran Pak Oles, 2005:4)

d. Tahun 2006. Terungkap empat buah laboratorium dan pabrik ecstasy, dan menjelang tahun 2007, sebanyak 955 kg shabu terungkap di Teluk Naga Tangerang. (Koran Pak Oles, 2006:7)

0 BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Part 1)

A. MASA REMAJA

1. Pengertian Remaja

Remaja merupakan tulang punggung agama dan negara yang potensinya memerlukan pembinaan yang optimal untuk menyongsong masa depan. Menurut Dra. Ny. Y.Singgih D Gunarsa, "masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang di alami sebagai persiapan memasuki dewasa, dengan batas umum yaitu 12 - 22 tahun”. (Nasir, 2002: 70).
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat (Tafsir, 2004:299), "remaja adalah anak yang ada pada masa peralihan diantara masa anak-anak dan masa dewasa, dimana anak-anak mengalami perubahan cepat di segala bidang". 
Perubahan ini bukan hanya dari segi usia tetapi dari segi sikap, cara berpikir, bertindak dan perubahan-perubahan lainnya, baik itu perubahan secara fisik maupun psikis.
Pada masa transisi ini, secara psikologis usia remaja merupakan usia yang berada dalam guncangan dan mudah terpengaruh sebagai akibat dari keadaan dirinya yang belum memiliki pengetahuan, mental, dan pengalaman yang cukup. Terkadang para remaja melakukan sesuatu perbuatan yang tidak proporsional, hal ini menyebabkan para remaja mudah sekali terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang dapat menghancurkan masa depannya.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian remaja, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja merupakan individu yang ada pada masa peralihan, dimana individu tersebut mengalami perubahan, baik dari segi usia, fisik maupun psikis.

2. Usia Remaja

Menurut Ali Samil H (2000) usia remaja dikelompokkan pada tiga masa:
1. Remaja awal, usia 12 sampai 15 tahun.
2. Remaja menengah, usia 15 sampai 18 tahun. 
3. Remaja akhir, usia 18 sampai 23 tahun.
Sama halnya dengan yang diungkapkan Priyatno (1996: 24) bahwa rentangan usia 13 - 24 tahun sebagai masa remaja.
Dan menurut Muhyidin (2004:26) "rentang usia remaja adalah antara 11 sampai 21 tahun. Pra pubertas bagi seorang perempuan adalah 13 tahun, dan bagi laki-laki adalah antara usia 13 sampai 14 tahun. Pubertas bagi perempuan antara 13 sampai 15 ½ tahun, sementara bagi laki-laki antara usia 14 sampai 16 tahun. Remaja perempuan mengalami krisis ketika berusia 15 ¼ sampai 16 ½ tahun, sementara remaja laki-laki mengalami hal yang sama ketika berusia 16 sampai 17 tahun. Tahap adolescence tercapai pada perempuan ketika berusia 16 ½ - 17 tahun, sementara pada pria berlangsung antara 17 sampai 21 tahun".

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Dr. Khonstam (Simadjuntak, 1984: 51), bahwa “rentang usia remaja adalah antara 13 sampai 21 tahun”.
Walaupun terdapat perbedaan diantara pendapat para ahli yang memperiodekan perkembangan kehidupan remaja, dapat disimpulkan bahwa usia antara 12 sampai 13 tahun adalah usia awal perkembangan hidup remaja. Dan kehidupan remaja akan berakhir pada usia 21 sampai 24 tahun. Titik usia ini merupakan titik perpisahan dari kehidupan remaja ke kehidupan dewasa.

3. Ciri-Ciri Remaja

Remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Para ahli berpendapat bahwa ada sejumlah ciri remaja yang dapat diidentifikasi dalam kehidupannya. 
Zakiah Daradjat (Tafsir, 2004:319) berpendapat bahwa "remaja memiliki ciri-ciri, antara lain: pertumbuhan jasmani cepat, pertumbuhan emosi, pertumbuhan mental, dan pertumbuhan pribadi sosial".
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Soedarsono (1989:12) yang menyatakan bahwa “remaja memiliki ciri-ciri, yaitu perubahan yang cepat dalam segala hal".
Sementara itu, Umar Hasyim mengemukakan bahwa, "masa remaja merupakan masa pubertas, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: perasaan seksual semakin tinggi, kecenderungan mementingkan diri sendiri, cita-cita yang bergelora, berpikir kritis, dan masa penemuan jati diri". 
Di samping ciri-ciri yang di kemukakan para ahli, HM Arifin (Tafsir, 2004: 319) menambahkan bahwa: "pada masa remaja ada kecenderungan meragukan kebenaran agama (ongeloef), walaupun sikap ini dianggap merupakan awal timbulnya keimanan (geloef)".
 
Dari beberapa pendapat para ahli, maka ciri-ciri remaja diantaranya:
1. Usia antara 13 sampai 24 tahun.
2. Mengalami perubahan cepat secara fisik, seperti pertumbuhan jasmani cepat, bertambahnya berat badan, perubahan suara, dan lain sebagainya.
3. Mengalami perubahan secara psikis, seperti pertumbuhan emosi, pertumbuhan mental, perasaan seksual semakin tinggi, kecenderungan mementingkan diri sendiri, cita-cita yang bergelora, dan berpikir kritis.
Ciri-ciri di atas merupakan ciri-ciri yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya.

0 Bab I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Remaja merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa. Peranan remaja dalam suatu negara, baik dalam revolusi fisik, material, maupun mental spiritual adalah suatu kepentingan dan sangat dominan. Karena remaja merupakan generasi harapan bangsa yang memiliki potensial, vitalitas (kemampuan), serta semangat patriotis.selengkapnya
Seperti yang telah dikemukakan oleh Syekh Mustapha Al-Ghayalani (Nasir, 2002: 10):“Pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya pada tangan kekuasaanmu memecahkan problema masyarakat”.
Remaja sebagai generasi muda yang akan memegang tongkat estafet untuk menegakkan dan mewarisi cita-cita luhur bangsa di masa depan
Selain itu, remaja juga adalah harapan agama. Sesuai dengan firman Allah swt dalam Surat Al-Kahfi ayat 13: “Sesungguhnya mereka itu adalah kaum muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (Depag, 2004:531)
Begitulah remaja penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional yang memiliki semangat patriotis, budi pekerti yang tinggi, berilmu, dan bertaqwa kepada Allah swt.
Namun, kenyataan-kenyataan yang dialami pada masa transisi ini sebagian besar remaja mengalami demoralisasi (kemorosotan moral). Apalagi pada masa
krisis ini adalah suatu kesempatan yang baik bagi subversi asing atau pihak lawan untuk dimanfaatkan sedemikian rupa demi menghancurkan mental remaja yang potensial itu dari dalam, antara lain dengan psywar (perang mental) yaitu dengan menggunakan taktik perang candu, narkoba, dan obat-obatan terlarang lainnya yang diintensifkan melalui kebudayaan asing.
Penyalah-gunaan narkoba tersebut dapat menimbulkan bencana yang sangat besar, bukan hanya untuk pengguna narkoba saja, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.
Martono dan Joewana (2006:2) mengemukakan hasil penelitiannya, yaitu diantaranya:
1. Tingginya kematian, berdasarkan data laporan di kota besar (Jakarta: 2005) empat sampai lima remaja meninggal per-hari, akibat penyalah-gunaan narkoba.
2. Bahaya penyakit menular Hepatitis B/C dan HIV/Aids meningkat 40% dari tahun 2004-2005.
3. Besarnya kerugian sosial-ekonomi yang harus ditanggung. Pecandu berusaha mencari uang untuk membeli narkoba yang dibutuhkan, yaitu dengan cara berbohong, menjual barang-barang milik pribadi dan keluarga, mencuri, merampok, dan sebagainya. Belum lagi biaya perawatan yang harus ditanggung.
Untuk menanggulangi meningkatnya kejadian di atas, berbagai peraturan perundang-undangan ditetapkan oleh pemerintah, baik itu sanksi bagi yang mengedarkan, memproduksi, dan menggunakannya, atau anjuran untuk menjalani pengobatan dan perawatan bagi pecandu.
Berbagai pencegahan dan penanggulangan, mulai dari model moral-legal, psychosocial, sosial budaya, sampai model pendekatan kompeherensif telah diupayakan oleh pemerintah, namun upaya tersebut kurang berhasil dilihat dari semakin bertambahnya penyalahguna narkoba. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan ole BNN (Koran SADAR no VII 2007), bahwa penyalah-gunaan narkoba di kalangan remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Juga penyalah-gunaan narkoba untuk yang kedua kalinya oleh pecandu setelah masa rehabilitasi.
Menurut Prof. Dadang Hawari, hal ini disebabkan tidak adanya basic agama di dalam diri pecandu narkoba.
Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Hawari dari hasil penelitiannya (2004), bahwa “diantara faktor-faktor yang menyebabkan remaja menyalahgunakan narkoba salah satunya adalah kurangnya basic agama dan pengetahuan di dalam keluarga, sehingga kebutuhan rohaninya tidak terpenuhi. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan rohani”.

Bila kebutuhan dasar spiritual ini tidak terpenuhi, maka umumnya remaja akan mudah terpengaruh dan terjerumus ke dalam perbuatan yang negatif. Termasuk salah satunya adalah menyalahgunakan narkoba. Sedangkan bagi orang yang beragama, kebutuhan dasar spiritual ini dapat terpenuhi oleh keimanan dalam agamanya. Sehingga tidak akan mudah terpengaruh dan terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang negatif.
Pendekatan Islam penting sekali dalam penanggulangan penyalah-gunaan narkoba di kalangan remaja. Yaitu sebagai upaya pencegahan (prevensi), pengobatan (terapi), dan pemulihan (rehabilitasi). Maka agar pencegahan dan penanggulangan narkoba tersebut dapat berhasil, diperlukan adanya pengetahuan mengenai pentingnya Pendekatan Islam dalam menanggulangi penyalah-gunaan narkoba, baik itu oleh orangtua, guru, masyarakat, juga remaja itu sendiri.
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis merasa berkepentingan untuk menggali dan membahas permasalahan tersebut lebih rinci yang kemudian diterangkan dalam karya tulis yang berjudul: “PENDEKATAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA”. Dengan harapan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

B. PERUMUSAN MASALAH
Penulisan karya tulis ini akan lebih mudah bila penulis merumuskan beberapa masalah utama yang memerlukan jawaban, baik secara teori maupun analisis.
Adapun rumusan masalah yang akan dikaji oleh penulis, adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian remaja?
2. Apa yang dimaksud dengan narkoba?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan remaja menyalahgunakan narkoba?
4. Bagaimana bahaya penyalah-gunaan narkoba terhadap fisik dan perilaku remaja?
5. Bagaimana pendekatan Islam dalam menanggulangi penyalah-gunaan narkoba pada remaja?

C. TUJUAN PENULISAN
Penulis merasa berkepentingan untuk membuat karya tulis yang berjudul: ”PENDEKATAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA”. Mengingat bahwa penyalah-gunaan narkoba dapat merusak fisik dan psikis, juga perilaku remaja sehari-hari.
Maka dengan banyaknya kasus tentang bobroknya perilaku remaja akibat penyalah-gunaan narkoba, remaja harus tetap dijaga, sebab remaja merupakan generasi muda yang akan memegang tongkat estafet untuk menegakkan dan mewarisi cita-cita luhur agama dan bangsa di masa depan. Yaitu dengan diterapkannya pendidikan dalam keluarga, baik itu pendidikan keimanan, pendidikan intelektual, juga pendidikan fisik dengan tujuan agar menjadi keluarga yang memiliki basic keimanan dan pengetahuan yang tinggi, sehingga remaja tidak mudah terbawa oleh perbuatan-perbuatan yang negatif, salah satunya yaitu penyalah-gunaan narkoba.


D. METODE DAN TEKNIK PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode deskriftif, yaitu “metode yang digunakan dengan mengumpulkan data-data untuk memberi gambaran atau penjelasan suatu konsep atau gejala, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan status objek penelitian pada masa kini”. (Usep, 2006)
Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah teknik bibliography (kepustakaan) yaitu: “Mencari sumber-sumber dari buku, internet, majalah, dan sumber-sumber lainnya”. (Diponegoro, 2006)

E. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Untuk memudahkan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, maka penulis menguraikan sistematika pembahasan, sebagai berikut:
Bab I pendahuluan, meliputi: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Metode dan Teknik Penulisan, dan Sistematika Pembahasan.
Bab II Tinjauan Pustaka mengenai Penyalah-gunaan Narkoba Di Kalangan Remaja, meliputi: Masa Remaja, Penyalah-gunaan Narkoba di Kalangan Remaja, Faktor Penyebab Penyalah-gunaan Narkoba, dan Bahaya Penyalah-gunaan Narkoba
Bab III Analisis Masalah mengenai Pendekatan Islam dalam Menanggulangi Penyalah-gunaan Narkoba di Kalangan Remaja, meliputi: Pribadi Sebagai Penentu Keberhasilan Penanggulangan, Keluarga Sebagai Sarana Penanggulangan, dan Do’a dan Dzikir Sebagai Pelengkap Upaya Penanggulangan.
Bab IV PENUTUP, meliputi: Kesimpulan dan Rekomendasi